Video Eyang

Jual Perawan Seharga 30 Juta Plus Mobil

Jual Perawan Seharga 30 Juta Plus Mobil

PERAWAN
PERAWAN SEHARGA 30 JUTA + MOBIL
Inilah Tarif Ayam Kampus Yang Masih Perawan
Kisah ini diungkapkan seorang mucikari atau germo yang tercatat sebagai mahasiswa di salah satu fakultas universitas ternama di Sulut. Dia tak ingin nama terangnya dipublikasi lengkap, tapi inisialnya AD.

Menurut AD, ‘bisnis lendir’ yang dia tangani ini melibatkan mahasiswi, yang tak jarang adalah temannya sendiri. “Sudah tren dengan ayam kampus,” katanya. “Alasan mereka mau terlibat macam-macam. Ada yang terhimpit ekonomi, ada juga yang cuma having fun (senang-senang, red),” tambah AD.

Bisnis ini pun tak mengenal waktu. Bahkan di bulan puasa yang baru lewat, bisnis “ayam kampus” itu telah subur. AD mengaku, antara pemesan dengan penyedia jasa (ayam kampus) sama-sama banyak.

Para konsumen ayam kampus ini berlatar belakang beda-beda. Mulai dari mahasiswa, pengusaha, sampai pejabat. “Pernah ada salah seorang pejabat kala itu meminta bantuan saya untuk mencari ayam kampus yang fresh,” ungkap AD.

Baca juga : Berburu ayam kampus masih mulus dan cantik
Baca juga : Mengintip aktivitas plus-plus si ayam kampus
Baca juga : Ayam kampus cantik pasang tarif 8 juta, MAU??....

Pejabat itu mengaku rela membayar sampai Rp30 juta tambah satu unit mobil baru jika guna mendapatkan mahasiswi yang masih perawan. “Waktu itu saya berhasil menemukan satu mahasiswi yang memang sedang dihimpit masalah ekonomi. Saya menawarkan kepada mahasiswi itu, dan diapun menerima tawaran saya. Deal 30 juta tambah satu mobil baru langsung disetujui,” ungkapanya. Lalu, dapat apa dia dari bisnis itu? “Lumayanlah. Ada presentase. Waktu ‘menjual’ perawan itu, saya sempat membeli satu unit motor,” ungkapnya.

Untuk menjalankan bisnis haram ini, mereka sudah punya call sign khusus. Kode itu antara lain “Temes”, yang artinya ada tamu mau short time. “Temes” atau tamu adalah istilah yang digunakan para germo untuk memperkenalkan kepada ayam kampus melalui media sosial. “Saya BBM atau telpon dulu. Kalau saya bilang ada ‘temes’, mereka sudah tahu ada tamu yang mau pakai jasa mereka,” ungkapnya.

‘’Untuk melakukan pertemuan dengan calon tamu, harus melalui saya dulu dan saya yang akan melakukan penawaran dengan tamu terkait harga dan tempat. Jika sudah deal harga, baru ‘ayam kampus’ langsung bisa ketemuan,” ungkap germo yang mengaku khusus menangani ‘ayam kampus’ ini.

Soal tarif, tergantung kecantikan. Semakin cantik maka semakin mahal. “Harga pembuka biasanya sekira satu juta rupiah,” ungkapnya. Rata-rata para konsumen sudah tidak mau melakukan transaksi dengan ‘ayam kampus’ apabila sudah pernah berhubungan sebelumnya. “Banyak tamu suka yang masih fresh kalau bisa yang masih virgin,” katanya.

Masalah ekonomi, katanya, biasanya hanya modus saja. Sebab ada mahasiswi yang punya duit mau melakoni praktek terlarang itu. “Biasanya suka eksis dengan barang-barang yang mentereng. Rata-rata tempat kost para ‘ayam kampus’ ini termasuk mewah,” katanya seraya menyebut nama tempat kost yang top di kalangan ‘selebritis cafĂ©’ di Manado.

Yang terbilang ekstrim dan berisiko adalah, oknum dosen ikut menjadi konsumen. motif yang digunakan sang dosen untuk beraksi adalah dengan mengancam tak akan memberikan nilai yang bagus kepada mahasiswi tersebut, sebut saja melati. Menurut pengakuan sang germo, sudah sekian kali dia memfasilitasi transaksi seksual dosen dengan mahasiswi itu. Biasanya mahasiswi ini menggunakan nama samaran. “Nama yang paling laris digunakan adalah Angel dan Tifa,” ungkap lelaki yang mengaku sebagai simpanan istri pengusaha asal Kalimantan itu ketika ditemui di salah satu kampus terkenal di Manado.

Germo ini mengaku, awalnya dis hanya coba-coba untuk mencari jasa seksual melalui media sosial seperti FB dan Twitter. “Dari mereka itu saya tahu siapa saja yang ‘ayam kampus’, dan boleh dibisniskan,” imbuhnya.

Menurutnya, para ‘ayam kampus’ “tahu malu” juga. Makanya, ‘permainan’ paling banyak dilakoni di hotel di pinggir atau luar kota. “Mereka malu kalau ketemu dengan orang yang mengenal mereka,” ungkapnya. “Yang pasti, fenomena ‘ayam kampus itu bukan isapan jempol, tapi nyata,” ungkapnya, menegaskan.